Navigation menu

Impedansi Karakteristik Saluran Transmisi

Daftar isi.

Orientalisme adalah istilah yang merujuk pada peniruan atau penggambaran unsur-unsur budaya Timur di Barat oleh para penulis, desainer, dan seniman. Sejak abad ke, "orientalis" telah menjadi istilah tradisional untuk para ahli dalam bidang studi Oriental. Show Us Your Asana! To contribute to the Asana Index become a community member. Submit an asana post with your description of the asana. View (Ardha Chandrasana) for an example.

Pengertian Prepositional Phrase

The Legs and Spine are Intensely Stretched. The Feet are Parallel and Wide Apart. The torso extends Forward, parallel to the Floor. The torso extends forward and down. The feet, the hands, and the crown of the head are in line. Elbows are bent at 90 degrees above the wrists. Place the hands the hips. The feet are parallel. Tighten the legs by lifting the knee caps and quadriceps upwards. Inhale lift the chest, Roll the shoulders back and away from the ears. Exhale place the palms on the floor underneath the shoulders.

Inhale, Draw the shoulder blades into the back. Exhale draw the abdomen into the spine. Make space in the inner upper thighs from the inside out. Press evenly into the feet. Draw the front thighs up and press them back.

Exhale the hands to waist. Exhale bring the legs back to Tadasana. Press evenly into the inner and outer edges of the feet. Press into the big toe mounds and internally rotate the top of the front thighs and externally rotate the inner back thighs out.

The inner thighs move away from one another. Press the bottom of the shins back. Take the thighbones back in the hip sockets. Lift the arches of the feet up. Take the outer shoulders back and draw the inner shoulder blades into the back. Tailbone moves down and pubic bone lifts up towards the navel.

Classic Asana — Head Down. From Concave position, lift the chest and broaden the collar bones. Place the palms of the hands in line with the feet. Spread the fingers and extend them towards the fingertips.

Tighten the elbows and stretch the heels of the palms backward. Exhale, bend the elbows and reach them back in line with the wrist and extend the crown of the head towards the floor. The weight of the body is in the legs.

Mempunyai mula kerja yang cepat dan lama kerja panjang. Obat ini cepat dimetabolisme dan didistribusi luas ke berbagai jaringan tubuh. Waktu paruh jam. Efek maksimum telah terlihat sekitar jam dan bertahan selama 8 jam setelah pemberian.

Dosis 60 mg diberikan 2 X sehari. Astemizol Merupakan derivat piperidin yang dihubungkan dengan cincin benzimidazol, struktur kimia. Astemizol pada pemberian oral kadar puncak dalam darah akandicapai setelah 1 jam pemberian. Mula kerja lambat, lama kerja panjang. Waktu paruh hari. Di metabolisme di dalam hati menjadi metabolit aktif dan tidak aktif dan di distriibusi luas keberbagai jaringan tubuh. Mequitazin Merupakan suatu derivat fenotiazin, struktur kimia lihat Gbr.

Absorbsinya cepat pada pemberian oral, kadar puncak dalam plasma dicapai setelah 6 jam pemberian. Waktu paruh 18 jam, Onset of action cepat, duration of action lama.

Dosis 5 mg 2 X sehari atau 10 mg 1 X sehari malam hari. Loratadin Adalah suatu derivat azatadin, struktur kimia Gbr. Penambahan atom C1 meninggikan potensi dan lama kerja obat loratadin. Kadar puncak dicapai setelah 1 jam pemberian. Waktu paruh jam, mula kerja sangat cepat dan lama kerja adalah panjang. Waktu paruh descarboethoxy-loratadin jam. Pada pemberian 40 mg satu kali sehari selama 10 hari ternyata mendapatkan kadar puncak dan waktu yang diperlukan tidak banyak berbeda setiap harinya hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kumulasi, obat ini di distribusi luas ke berbagai jaringan tubuh.

Matabolitnya yaitu descarboetboxy-loratadin DCL bersifat aktif secara farmakologi clan juga tidak ada kumulasi. Pada waktu ada gangguan fiungsi hati waktu paruh memanjang. Dosis yang dianjurkan adalah 10 mg 1 X sehari. Antihistamin merupakan salah satu obat yang paling banyak digunakan, karena antihistamin adalah obat yang paling bermanfaat untuk mengatasi penyakit alergi seperti rhinitis,urtikaria,pruritus,dan lain-lain.

Walaupun selama ini ahtihistamin dianggap sebagai obat yang cukup aman, namun efek samping sedasi rasa mengantuk menyebabkan penurunan daya tangkap, terutama pada antihistamin generasi pertama, sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, untuk penanganan penyakit alergi gunakan antihistamin yang aman dan efektif.

Antihistamin antagonis histamin adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang mana pun, namun seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1.

Antihistamin ini biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh tanggapan berlebihan tubuh terhadap alergen penyebab alergi , seperti serbuk sari tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah signifikan di tubuh. Terdapat beberapa jenis antihistamin, yang dikelompokkan berdasarkan sasaran kerjanya terhadap reseptor histamin.

Antagonis Reseptor Histamin H1 Secara klinis digunakan untuk mengobati alergi. Kinerjanya adalah meningkatkan sekresi asam lambung. Dengan demikian antagonis reseptor H2 antihistamin H2 dapat digunakan untuk mengurangi sekresi asam lambung, serta dapat pula dimanfaatkan untuk menangani peptic ulcer dan penyakit refluks gastroesofagus. Contoh obatnya adalah simetidina, famotidina, ranitidina, nizatidina, roxatidina, dan lafutidina. Antagonis Reseptor Histamin H3 Antagonis H3 memiliki khasiat sebagai stimulan dan memperkuat kemampuan kognitif.

Penggunaannya sedang diteliti untuk mengobati penyakit Alzheimer's, dan schizophrenia. Contoh obatnya adalah ciproxifan, dan clobenpropit. Antagonis Reseptor Histamin H4 Memiliki khasiat imunomodulator, sedang diteliti khasiatnya sebagai antiinflamasi dan analgesik. Beberapa obat lainnya juga memiliki khasiat antihistamin. Contohnya adalah obat antidepresan trisiklik dan antipsikotik. Prometazina adalah obat yang awalnya ditujukan sebagai antipsikotik, namun kini digunakan sebagai antihistamin.

Senyawa-senyawa lain seperti cromoglicate dan nedocromil, mampu mencegah penglepasan histamin dengan cara menstabilkan sel mast, sehingga mencegah degranulasinya.

AH1 non sedatif mempunyai efek menghambat kerja histamin terutama diperifer, sedangkan di sentral tidak terjadi karena tidak dapat melalui sawar darah otak. Antihistanin bekerja dengan cara kompetitif dengan histamin terbadap reseptor histamin pada sel, menyebabkan histamin tidak mencapai target organ. AH1 non sedatif umumnya mempunyai efek antialergi yang tidak berbeda dengan AH1 klasik. Beberapa peneliti melaporkan bahwa untuk penderita seasonal rhinitis alergika. Loratadin dan Mequitazin mempunyai mula kerja dan efektivitas yang sama dengan terfenidin.

Diantara AH1 non sedatif Mequitazin yang paling tidak spesifik, karena masih mempunyai efek antikolinergik. Efek terhadap "psyvhomotor performance" dari terfenidin, asetemizol, loratadin dari berbagai penelitian menyatakan tidak dijumpai kelainan 2,3,5. Pada reaksi wheal dan flare, pemberian per oral terfenidin 60 mg menunjukkan efek hambatan 1 jam setelah pemberian, efek maksimum jam dan lama kerja jam sesudah pemberian.

Pada loratadin respon wheal akan ditekan pada pemberian jam. Batenhorst et al Untuk pemberian jangka panjang dan untuk penderita yang pekerjannya memerlukan kewaspadaan misalnya pengemudi mobil lebih sesuai diberi AH1 non sedatif, karena efek sedasi dan atltikolinergik dari AH1 klasik akan mengganggu penderita. Krause dan Shuter mendapat hasil astemizol lebih baik pada penggunaan jangka panjang terhadap urtikaria kronik dibandingkan dengan chlorfeniramin.

Ferguson et al mendapatkan hasil yang bermakna dari perbandingan terfenidin dengan plasebo dalam menurunkan skor itch dan wheal. Loratadin mengurangi sistem chronic idiopathic urticaria dari pada plasebo. Untuk pengobatan seasonal allergic rhinitis SAR telah dilakukan beberapa uji klinik antara lain Katelaris membandingkan loratidin dengan azatadin pada 34 penderita dan mendapatkan efek kedua obat sama baiknya, tetapi loratadin kurang efek sampingnya.

Pemberiann kombinasi 5 mg loratadin clan mg pseudoefedri 2X sehari untuk pengobatan SAR memberikan hasil bai. Pengobatan rinitis alergik prineal dengan 10 mg loratadin 1X sehari dan terfenidin 60 mg 2X sehari, selama 4 minggu jelas lebih baik dari plasebo dalam menurunkan total symptom scores TSS.

Berbeda dengan AH1 klasik, AH1 non sedatif dengan obat-obat diazepam dan alkohol, tidak ada interaksi potensial efek sedasi 2,3,5. Takhipilaksis tidak dijumpai pada 3 AH1 non sedatif. Penggunaan yang lama dari astemizol akan menambah nafsu makan dan berat badan. Antihistamin bekerja dengan cara menutup reseptor syaraf yang menimbulkan rasa gatal, iritasi saluran pernafasan, bersin, dan produksi lendir alias ingus. Antihistamin ini ada 3 jenis, yaitu Diphenhydramine, Brompheniramine, dan Chlorpheniramine.

Yang paling sering ditemukan di obat bebas di Indonesia adalah golongan klorfeniramin biasanya dalam bentuk klorfeniramin maleat. Antihistamin menghambat efek histamin pada reseptor H1. Tidak menghambat pelepasan histamin, produksi antibodi, atau reaksi antigen antibodi. Kebanyakan antihistamin memiliki sifat antikolinergik dan dapat menyebabkan kostipasi, mata kering, dan penglihatan kabur.

Selain itu, banyak antihistamin yang banyak sedasi. Beberapa fenotiazin mempunyai sifat antihistamin yang kuat hidroksizin dan prometazin. Antihistamin H1 Meniadakan secara kompetitif kerja histamin pada reseptor H1.

Selain memiliki kefek antihistamin, hampir semua AH1 memiliki efek spasmolitik dan anastetik lokal 2. Antihistamin H2 Bekerja tidak pada reseptor histamin, tapi menghambat dekarboksilase histidin sehinnga memperkecil pembentukan histamin jika pemberian senyawa ini dilakukan sebelum pelepasan histamin. Tapi jika sudah terjadi pelepasa histamin, indikasinya sama denfan AH 1.

Hipersensitivitas dan glaucoma sudut sempit. Jangan digunakan pada bayi baru lahir dan premature. Antihistamin generasi kedua dan ketiga: Pasien lansia lebih rentan terhadap efek antikolinergik yang merugikan dari antihistamin. Gunakan secara hati-hati pada pasien-pasien dengan obstruksi pylorus, hipertrofi prostat, hipertiroidisme, penyakit kardiovaskuler, atau penyakit hati berat.

Gunakan secara hati-hati pada kehamilan dan laktasi. Kaji gejala alergi rhinitis, konjungtivitis, bersin sebelum dan secara periodic selama terapi.

Pantau nadi dan tekanan darah sebelum dan selama terapi IV. Kaji bunyi paru dan karakter sekresi bronkus. Kaji derajat mual dan frekuensi serta jumlah emesis bila kita memberikannya untuk mual dan muntah. Kaji status mental, alam perasaan dan tingkah laku bila di berikan untuk kecemasan. Observasi karakter, lokasi dan ukuran daerah yang terkena bila diberikan untuk pruritus.

Loterie Suisse Romande Geneve

Bagi filsafat hukum, uraian jurisprudence itu akan dijadikan dasar pijakan untuk merefleksikan secara kritis hakikat hukum terkait, namun tidak lagi diarahkan pada hukum positif, melainkan pada dimensi meta-yuridis.

Closed On:

Accessed on October 14,

Copyright © 2015 wholesumfamilyfarms.info

Powered By http://wholesumfamilyfarms.info/